JAKARTA – Jagat maya baru-baru ini dihebohkan dengan beredarnya foto wajah yang diduga sebagai pelaku penyiraman air keras terhadap Aktivis KontraS, Andrie Yunus. Foto tersebut viral di platform X (dahulu Twitter) dan menampilkan dua orang pria yang mengendarai motor matic putih dengan visual yang terlihat sangat jelas. Namun, Polres Metro Jakarta Pusat segera memberikan klarifikasi penting guna meluruskan informasi yang beredar agar tidak menimbulkan spekulasi liar di tengah masyarakat.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra, menegaskan bahwa foto yang beredar tersebut bukanlah dokumentasi asli, melainkan hasil rekayasa teknologi Artificial Intelligence (AI). Roby menjelaskan bahwa keberadaan foto AI ini justru berisiko mengaburkan penyelidikan karena mendistorsi ciri-ciri asli pelaku yang terekam di CCTV. Pihak kepolisian meminta masyarakat untuk tetap berpegang pada fakta hukum dan tidak menyebarkan gambar yang belum terverifikasi kebenarannya agar tidak mengganggu proses pengejaran pelaku di lapangan.
Berdasarkan laporan kronologi dari KontraS, insiden tragis ini menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, setelah ia menghadiri diskusi di kantor YLBHI. Dua orang pria tidak dikenal (OTK) yang berboncengan motor nekat melawan arah dan langsung menyiramkan cairan asam ke tubuh korban. Akibat serangan brutal ini, Andrie harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit karena menderita luka bakar hingga 24 persen yang mengenai area wajah, tangan, dada, hingga bagian mata.
Hingga saat ini, Tim Satreskrim Polres Metro Jakarta Pusat masih terus bekerja mengumpulkan bukti otentik untuk mengungkap identitas pelaku yang sebenarnya. Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menyebutkan ciri-ciri pelaku asli berdasarkan rekaman di lokasi kejadian adalah dua orang laki-laki; satu pengemudi menggunakan helm hitam dan baju kombinasi putih-biru, sementara penumpang menggunakan masker penutup wajah dan kaus biru tua. Kasus penyiraman terhadap Aktivis KontraS ini menjadi perhatian serius publik karena dianggap sebagai serangan terhadap pembela HAM di Indonesia. Dikutip dari Okezone.com
