JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia berhasil mempertahankan tren positif dengan mencatat surplus neraca perdagangan selama 71 bulan berturut-turut hingga Maret 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa pada Maret 2026 saja, Indonesia membukukan surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS. Pencapaian luar biasa yang dimulai sejak Mei 2020 ini membuktikan ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika pasar global, di mana akumulasi surplus sepanjang kuartal I-2026 (Januari-Maret) kini telah menyentuh angka 5,55 miliar dolar AS.
Kinerja gemilang ini didorong kuat oleh sektor industri pengolahan yang menjadi motor utama ekspor nonmigas Indonesia. Sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026, ekspor nonmigas tumbuh 0,98 persen mencapai 63,60 miliar dolar AS, dengan kontribusi besar dari komoditas unggulan seperti besi dan baja, minyak kelapa sawit (CPO), serta kenaikan signifikan pada produk semikonduktor dan komponen elektronik. Sektor industri pengolahan sendiri memberikan andil kenaikan sebesar 3,15 persen, menegaskan perannya sebagai tulang punggung stabilitas neraca perdagangan di tengah defisit sektor migas yang mencapai 5,08 miliar dolar AS.
Dari sisi kemitraan global, Amerika Serikat, India, dan Filipina menjadi negara penyumbang surplus terbesar bagi perdagangan Indonesia. Meskipun nilai impor nasional mengalami kenaikan 10,05 persen menjadi 61,30 miliar dolar AS akibat tingginya permintaan bahan baku dan penolong, posisi perdagangan RI tetap solid. Hingga saat ini, China masih menjadi pasar tujuan utama ekspor nonmigas dengan nilai 16,5 miliar dolar AS, disusul Amerika Serikat dan India, yang secara kolektif mencerminkan dominasi produk manufaktur Indonesia di kancah internasional. Dikutip dari Antaranews.com
