JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah pada perdagangan Selasa siang. Berdasarkan data pasar per pukul 11.02 WIB, mata uang Garuda merosot 60 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp17.728 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.668 per dolar AS.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai pelemahan rupiah ini utamanya dipicu oleh dampak konflik Timur Tengah yang mulai merembet ke kenaikan harga minyak mentah dan lonjakan ekspektasi inflasi Amerika Serikat (AS). Kondisi ini otomatis mengerek tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS ke level tertinggi baru di tahun 2026, yang pada gilirannya mendorong penguatan dolar AS secara global terhadap mata uang lainnya, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, tekanan kian berat karena harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas 100 dolar AS per barel memicu kenaikan harga kebutuhan masyarakat dan membengkaknya biaya impor minyak. Selain itu, Ariston menambahkan bahwa periode pembagian dan repatriasi dividen ke luar negeri yang sedang berlangsung saat ini turut meningkatkan permintaan dolar AS di tanah air, sehingga melipatgandakan tekanan terhadap pergerakan rupiah. Dikutip dari Antaranews.com
