Jakarta – Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu setelah terapresiasi 94 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.933 per dolar AS. Penguatan ini terjadi dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp18.027 per dolar AS. Selain itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke level Rp17.937 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.037 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai penguatan rupiah didorong oleh sentimen positif dari dalam negeri, terutama setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 melampaui ekspektasi pasar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dari perkiraan pelaku pasar yang berada di kisaran 5,1 persen. Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan tercatat mencapai Rp3.576,2 triliun, sementara PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun.
Dari sisi global, sentimen pasar turut dipengaruhi oleh penurunan harga minyak dunia yang berada di bawah 80 dolar AS per barel. Kondisi tersebut memunculkan ekspektasi bahwa inflasi global akan lebih terkendali sehingga Federal Reserve (The Fed) diperkirakan belum akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Penurunan harga minyak juga dipicu harapan terhadap perkembangan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, meski hingga kini belum ada kesepakatan resmi setelah pemerintah Iran membantah klaim yang disampaikan Presiden AS Donald Trump. Dikutip dari Antaranews.com
