Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa lemak dan minyak hewani/nabati, BBM, besi dan baja, produk nikel, dan alas kaki menjadi penyumbang utama surplus neraca dagang Indonesia pada Januari–Oktober 2025. Komoditas-komoditas tersebut masing-masing mencatat surplus 28,12 miliar dolar AS; 22,59 miliar dolar AS; 15,79 miliar dolar AS; 7,39 miliar dolar AS; dan 5,47 miliar dolar AS.
Secara total, neraca perdagangan Indonesia selama periode tersebut mencatat surplus 35,88 miliar dolar AS, meningkat 10,98 miliar dolar AS dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Surplus didorong kuatnya kinerja nonmigas yang mencapai 51,51 miliar dolar AS, sementara migas masih defisit 15,63 miliar dolar AS.
Ekspor Januari–Oktober 2025 mencapai 234,04 miliar dolar AS, tumbuh 6,96 persen. Tiga negara tujuan ekspor terbesar adalah China, Amerika Serikat, dan India dengan kontribusi gabungan 41,84 persen. Ekspor ke China didominasi besi dan baja, BBM, dan produk nikel; sementara Amerika Serikat banyak menyerap mesin elektrik, pakaian rajutan, dan alas kaki.
Nilai impor Indonesia tercatat 198,16 miliar dolar AS atau naik 2,19 persen. Impor nonmigas mencapai 171,61 miliar dolar AS, sedangkan migas turun menjadi 26,56 miliar dolar AS. Peningkatan terbesar impor berasal dari barang modal yang naik 18,67 persen. China tetap menjadi sumber impor terbesar dengan nilai 70,19 miliar dolar AS. Dikutip dari Antaranews.com
