Tapanuli Tengah, Sumatera Utara – Warga Kabupaten Tapanuli Tengah menggantungkan diri pada mata air perbukitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah jaringan air bersih rusak akibat banjir dan tanah longsor.
Warga Kecamatan Pandan, Tora Limbong, mengatakan mereka saat ini hanya mengandalkan mata air Aek Matauli untuk memasak dan mandi, karena layanan PDAM belum normal. “Beginilah kami hari-hari ini menggunakan air Matauli,” ujarnya. Warga berharap jaringan distribusi PDAM segera diperbaiki agar pasokan air bersih kembali lancar.
Kios penjual air dari Aek Matauli tersebar di hampir setiap sudut Jalan Zainal Hutagalung, Jalan Madse Gelar Kesayangan, hingga perbatasan dengan Kota Sibolga. Satu galon 20 liter dijual Rp2.000, dan rata-rata warga mengeluarkan sekitar Rp32 ribu per hari untuk kebutuhan konsumsi dan mencuci pakaian.
Beberapa bantuan air dari pemerintah daerah dan relawan tersedia melalui mobil tangki, namun air tersebut biasanya hanya digunakan untuk mencuci karena bercampur lumpur. Warga saling gotong royong menarik air dari mata air Aek Matauli, bahkan sebagian kios tidak menaikkan harga jual.
Tapanuli Tengah terdampak parah sejak 25 November, dengan data Kantor SAR Nias mencatat hingga Sabtu (hari ke-12 pascabencana) sebanyak 115 orang meninggal dunia, 169 orang hilang, dan 549 dievakuasi selamat. Dikutip dari Antaranews.com
