Presiden Prabowo Subianto resmi menyetujui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Kuala sebagai solusi strategis untuk mengatasi pendangkalan sungai dan krisis air bersih di daerah terdampak bencana. Usulan yang diajukan oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ini berfokus pada kegiatan pengerukan sedimen lumpur secara besar-besaran di muara sungai atau kuala. Proyek teknik skala besar ini akan melibatkan koordinasi antara TNI, Kementerian Pertahanan, pemerintah daerah, serta para ahli teknik dari berbagai instansi untuk menormalisasi aliran sungai yang bermuara ke laut.
Operasi pengerukan ini bertujuan untuk mengangkat timbunan lumpur serta membersihkan material penghambat seperti kayu di dasar sungai agar aliran air kembali lancar. Selain itu, pendalaman kuala akan memudahkan mobilisasi alat berat melalui jalur laut langsung ke titik terdekat di daratan tanpa harus melalui jalur darat yang sulit. Presiden menekankan bahwa pemerintah berkomitmen penuh dalam hal pendanaan dengan menyiapkan anggaran hingga Rp 60 triliun guna memastikan operasi ini berjalan efektif demi keselamatan masyarakat.
Satgas Kuala terdiri dari dua tim utama, yaitu tim pendalaman kuala dan tim pemanfaatan air yang dilengkapi dengan sistem pengolahan air bersih atau water treatment system di atas kapal. Dengan teknologi ini, air kuala yang berlumpur akan diolah menjadi air jernih yang siap digunakan oleh warga. Satgas dijadwalkan mulai bekerja dalam waktu dua pekan ke depan, dengan sasaran operasional pertama berlokasi di Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, sebelum berlanjut ke wilayah terdampak lainnya seperti Bireuen dan Sibolga. Dikutip dari Antaranews.com
