Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Rabu bergerak melemah ke level 16.761 rupiah per dolar AS. Penurunan tipis sebesar 0,02 persen ini disebabkan oleh meningkatnya tensi geopolitik global menyusul aksi militer Amerika Serikat di Venezuela. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memperkirakan rupiah akan terus bergerak di rentang 16.700 hingga 16.800 rupiah sepanjang hari ini akibat sentimen negatif tersebut.
Ketegangan internasional ini juga berimbas pada pasar obligasi Indonesia, yang ditandai dengan naiknya imbal hasil SBN untuk berbagai tenor. Para pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dalam menghadapi ketidakpastian hubungan diplomatik antarnegara besar. Meski demikian, aktivitas perdagangan obligasi justru mencatatkan kenaikan volume yang cukup signifikan mencapai lebih dari 50 triliun rupiah dalam satu hari.
Pemerintah sendiri terus memantau perkembangan situasi ini melalui mekanisme lelang Surat Utang Negara. Meskipun total penawaran dari investor mencapai angka yang sangat besar yakni 90,96 triliun rupiah, pemerintah hanya menyerap 40 triliun rupiah guna menjaga stabilitas pembiayaan. Langkah antisipasi ini sangat penting untuk melindungi ekonomi domestik dari guncangan eksternal yang dipicu oleh konflik di Amerika Latin tersebut. Dikutip dari Antaranews.com
