Jakarta – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu (4/3), mengalami pelemahan sebesar 58 poin atau 0,34 persen ke level Rp16.930 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan tren penurunan dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di posisi Rp16.872 per dolar AS. Menurut analisis dari Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), pelemahan mata uang Garuda saat ini sangat dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu sentimen penghindaran risiko (risk-off) di kalangan investor dunia.
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh menguatnya dominasi dolar AS sebagai aset penyelamat (safe haven). Kondisi ini diperparah dengan berkurangnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga acuan The Fed dalam waktu dekat. Data ekonomi Amerika Serikat yang tetap solid serta sikap hati-hati para pejabat Federal Reserve terhadap inflasi memperkuat prediksi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia akibat risiko gangguan pasokan turut membebani mata uang negara berkembang karena potensi pembengkakan biaya impor energi dan tekanan inflasi.
Meskipun menghadapi tekanan eksternal yang kuat, rupiah masih didukung oleh fundamental ekonomi domestik yang relatif stabil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 berhasil mencatat surplus sebesar 95 miliar dolar AS. Capaian ini mencerminkan ketahanan sektor eksternal dan aliran devisa yang tetap terjaga dengan baik. Namun, dalam jangka pendek, dampak positif dari surplus perdagangan tersebut masih tertahan oleh sentimen global, sehingga rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif sambil mencermati perkembangan kondisi keamanan dan ekonomi dunia. Dikutip dari Antaranews.com
