Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai bahwa klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai perolehan 30 hingga 50 juta barel minyak dari Venezuela tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pasar energi global. Hal ini dikarenakan kapasitas produksi minyak Venezuela saat ini masih berada di bawah satu juta barel per hari atau kurang dari satu persen dari total produksi dunia. Menurut Airlangga, dampak dari kebijakan tersebut lebih bersifat lokal bagi pasar energi Amerika Serikat daripada mempengaruhi stabilitas pasokan minyak di tingkat global.
Klaim tersebut muncul setelah Donald Trump mengumumkan bahwa pemerintahan interim Venezuela setuju untuk menyerahkan stok minyak tersebut kepada Amerika Serikat untuk dijual dengan harga pasar. Jika dihitung dengan asumsi harga minyak sekitar 56 dollar AS per barel, volume minyak tersebut diperkirakan bernilai hingga 2,8 miliar dollar AS atau sekitar 47 triliun rupiah. Langkah ini diharapkan pihak Amerika Serikat dapat membantu memenuhi kebutuhan energi domestik mereka sekaligus memberikan keuntungan ekonomi bagi kedua belah pihak yang terlibat.
Terkait dengan situasi politik dan transisi pemerintahan yang sedang berlangsung di Venezuela, Pemerintah Indonesia menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi tersebut tanpa terburu-buru mengambil tindakan tertentu. Airlangga menegaskan bahwa prioritas saat ini adalah melakukan monitoring terhadap dinamika internasional yang ada. Dengan kontribusi produksi Venezuela yang relatif kecil terhadap pasokan dunia, pemerintah optimis bahwa gejolak tersebut tidak akan mengganggu keamanan energi nasional maupun harga minyak internasional secara ekstrim. Dikutip dari Antaranews.com
