Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan bahwa kelompok teror semakin adaptif di era digital. Pola dan strategi terorisme kini lebih resisten dan aktif seiring kemajuan teknologi informasi.
Kepala BNPT, Komjen Pol Eddy Hartono, menjelaskan bahwa sebelumnya aktivitas terorisme lebih banyak dilakukan secara tatap muka, menyasar kelompok usia 25–35 tahun dengan proses radikalisasi sekitar 3–5 tahun. Kini, kelompok teror menyasar anak-anak dan remaja melalui media sosial dan game online, membuat radikalisasi lebih cepat, hanya dalam tiga hingga lima bulan.
Beberapa bulan lalu, Densus 88 Antiteror Polri menangkap lima tersangka jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) yang terafiliasi ISIS. Mereka terbukti melakukan radikalisasi terhadap 110 anak di berbagai provinsi melalui platform digital.
Kajian BNPT bersama Densus 88, Badan Siber dan Sandi Negara, serta Kementerian Komunikasi dan Digital menilai bahwa ancaman radikalisasi digital kini jauh lebih cepat dan masif dibanding metode tradisional. Dikutip dari RRI.co.id
