Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengembangkan peranti sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) untuk mengantisipasi bencana banjir dan erosi di Indonesia. Kepala BRIN, Arif Satria, menyatakan bahwa riset mendalam mengenai teknologi ini dimulai pada tahun 2026 sebagai upaya penguatan mitigasi bencana hidrometeorologi. Kehadiran sistem ini sangat krusial agar kedatangan banjir dan proses erosi dapat dideteksi lebih awal, sehingga masyarakat memiliki waktu evakuasi yang cukup dan risiko jatuhnya korban jiwa di masa depan dapat diminimalisir secara signifikan.
Proyek pengembangan sistem peringatan dini ini ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026 dan direncanakan untuk segera diimplementasikan guna membantu masyarakat, khususnya di wilayah Sumatera. Selama ini, bencana banjir dan erosi sering kali datang secara tiba-tiba tanpa adanya indikator yang dapat dipantau secara langsung oleh warga. Dengan teknologi EWS yang terintegrasi, BRIN berharap Indonesia memiliki kemandirian dalam mendeteksi ancaman alam secara akurat melalui data riset yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Selain pengembangan EWS, BRIN terus mengerahkan berbagai teknologi mutakhir lainnya untuk penanganan pascabencana di lapangan. Beberapa inovasi yang telah dikerahkan meliputi pengiriman unit mesin Arsinum untuk penyediaan air siap minum serta penggunaan pesawat nirawak (drone) Ground Penetration Radar (GPR). Drone canggih tersebut mampu memetakan kondisi tanah hingga kedalaman 100 meter, yang sangat membantu dalam proses rekonstruksi wilayah pascabencana serta membantu tim evakuasi dalam pencarian korban di lokasi rawan longsor. Dikutip dari Antaranews.com
