Wakil Ketua Hipertensi Paru Indonesia (INA-PH), dr. Hary Sakti Muliawan, menekankan sulitnya mengenali hipertensi paru pada tahap awal karena gejalanya mirip asma atau gangguan jantung. Keterlambatan diagnosis sering membuat pasien kehilangan waktu untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.
Dr. Hary menyebut edukasi publik dan pemahaman tenaga medis sangat penting untuk mendeteksi penyakit ini sejak dini, yang dapat menyelamatkan banyak pasien.
Pasien Yusnita Dewi membagikan pengalaman panjangnya hingga mendapatkan diagnosis. Ia harus menjalani terapi seumur hidup, sementara akses obat di Indonesia masih terbatas. Dukungan keluarga dan komunitas membantunya menjalani pengobatan jangka panjang dan menjaga kualitas hidup.
Yusnita berharap akses obat dan dukungan sistematis bagi pasien hipertensi paru dapat ditingkatkan agar mereka tidak merasa berjuang sendiri. Dikutip dari RRI.co.id
