Dwikorita Karnawati Akhiri Masa Jabatan, Teuku Faisal Fathani Resmi Pimpin BMKG 2025

Dwikorita Karnawati Akhiri Masa Jabatan, Teuku Faisal Fathani Resmi Pimpin BMKG 2025

Suasana Haru Warnai Sertijab BMKG di Jakarta

Suasana haru dan penuh semangat kebersamaan menyelimuti acara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang digelar di Auditorium BMKG, Jakarta, Senin (3/11/2025).

Momen tersebut menandai berlanjutnya estafet kepemimpinan dari Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., yang telah menjabat sejak 2017, kepada Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, S.T., M.T., Ph.D., IPU., yang baru saja dilantik sebagai Kepala BMKG oleh Menteri Perhubungan RI.


Pesan Perdana Kepala BMKG Baru, Teuku Faisal Fathani

Dalam sambutannya, Teuku Faisal Fathani menyampaikan rasa syukur sekaligus tekad kuat untuk melanjutkan kiprah BMKG sebagai lembaga ilmiah yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman.

“Hari ini saya berdiri dengan rasa syukur dan tanggung jawab besar. Amanah sebagai Kepala BMKG bukan sekadar jabatan, tetapi panggilan untuk menjaga bangsa dari ancaman yang tak kasat mata, mulai dari gempa bumi, tsunami, hingga perubahan iklim yang kian nyata,” ujar Faisal dalam pidato perdananya.

Faisal menekankan pentingnya kolaborasi, inovasi, serta pemanfaatan teknologi di seluruh lini BMKG agar lembaga ini mampu menjadi lebih dari sekadar pusat data, tetapi juga pusat aksi.

“BMKG harus menjadi lebih dari pusat data, tetapi juga pusat aksi. Tantangan yang dihadapi bukan hanya teknis, tetapi juga sosial dan komunikasi menjangkau nelayan, petani di lereng gunung, hingga anak-anak sekolah. Menuju Indonesia Emas 2045, ketahanan bangsa tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada ketahanan iklim dan ketangguhan bencana,” tegasnya.


Kolaborasi dan Inovasi Jadi Kunci Transformasi BMKG

Kepala BMKG, Prof. Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor dan inovasi teknologi menjadi kunci dalam memperkuat peran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika di era perubahan iklim yang semakin kompleks.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi BMKG saat ini bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial. Lembaga ini dituntut mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat — mulai dari nelayan, petani di lereng gunung, hingga anak-anak sekolah — dengan informasi cuaca dan bencana yang mudah dipahami dan cepat diakses.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. BMKG harus hadir sebagai pusat aksi, bukan sekadar pusat data. Kolaborasi dengan masyarakat, akademisi, media, dan lembaga pemerintah menjadi fondasi penting dalam menjaga keselamatan publik dari ancaman cuaca ekstrem, gempa bumi, dan tsunami,” tegas Faisal.

Selain memperkuat jejaring kerja sama, Faisal juga menyoroti pentingnya pengembangan sumber daya manusia (SDM). Ia mengungkapkan bahwa ratusan pegawai BMKG telah menempuh pendidikan S2 dan S3, yang menjadi modal besar dalam menciptakan inovasi dan meningkatkan profesionalisme lembaga.

“Potensi besar ini harus terus ditumbuhkan. Kita hidup di era digital yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan akurasi. Masyarakat kini menunggu informasi yang bukan hanya cepat, tetapi juga mudah dipahami dan bisa langsung diimplementasikan,” ujarnya.

Faisal menambahkan, BMKG akan terus bertransformasi menuju lembaga yang lebih adaptif, transparan, dan berorientasi pelayanan publik. Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), sistem peringatan dini berbasis digital, serta komunikasi publik yang inklusif menjadi arah pengembangan BMKG ke depan.

“Integritas dan keikhlasan adalah kunci pelayanan publik. BMKG mungkin bekerja di balik layar, tetapi keputusan dan informasinya berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Karena itu, semangat melayani harus terus kita jaga,” tutup Faisal.


Dwikorita Karnawati Kenang Perjalanan dan Ucapkan Terima Kasih

Sementara itu, Prof. Dwikorita Karnawati menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh insan BMKG atas dukungan selama masa kepemimpinannya. Ia mengenang berbagai pengalaman menegangkan saat menghadapi gempa Lombok, tsunami Palu, hingga tsunami Selat Sunda, yang menjadi ujian sekaligus pembuktian ketangguhan BMKG.

“Alhamdulillah, karena amanah, aman, dan iman, Allah menolong kita sehingga sampai hari ini BMKG tetap eksis dan terus dipercaya masyarakat. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih, berkat dedikasi dan kerja keras seluruh insan BMKG, kini BMKG telah berhasil merasuki sanubari masyarakat Indonesia, mulai dari anak-anak sekolah hingga, insya Allah, Presiden,” ungkap Dwikorita.

Dalam kesempatan tersebut, Dwikorita juga menyampaikan memorandum akhir jabatan dan laporan singkat capaian kinerja BMKG. Ia berharap kepemimpinan baru dapat melanjutkan transformasi menuju BMKG yang semakin tangguh, adaptif, dan berdaya saing global.


Apresiasi Menteri Agama RI: Estafet Kepemimpinan yang Penuh Makna

Turut memberikan sambutan, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasi mendalam kepada kedua tokoh tersebut. Ia menyebut momen pergantian pimpinan ini sebagai contoh peralihan kepemimpinan yang syahdu dan penuh makna.

“Hari ini kita menyaksikan dua sosok terbaik bangsa: satu senior yang berpamitan, satu pionir yang melanjutkan. Ini bukan sekadar pergantian jabatan, tetapi tanda bahwa estafet kepemimpinan di BMKG berjalan dengan mulus dan penuh berkah,” ujar Nasaruddin.

Ia juga menekankan pentingnya menjalankan amanah dengan iman dan keikhlasan agar setiap tugas terasa ringan dan bermakna.


Penutupan dan Harapan ke Depan

Acara ditutup dengan penandatanganan berita acara serah terima jabatan serta penyerahan memorandum akhir jabatan dari Dwikorita kepada Faisal.
Kegiatan ini disaksikan oleh para pejabat tinggi BMKG, Dharma Wanita Persatuan, serta tamu undangan dari berbagai kementerian dan lembaga.

Momen ini meneguhkan komitmen bersama untuk melanjutkan transformasi BMKG menuju lembaga berkelas dunia yang berorientasi pada keselamatan dan kesejahteraan bangsa.

Di kutip dari berita utama BMKG