Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Yayasan WWF Indonesia memaparkan hasil Ekspedisi Romang-Damer 2025 yang mengukuhkan perairan Maluku Barat Daya sebagai salah satu ekosistem laut paling tangguh di dunia. Penelitian yang berlangsung selama satu bulan tersebut berhasil menemukan habitat dugong terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai 32 ekor dalam satu area, sebuah temuan yang dianggap sangat langka di tingkat global. Selain itu, kawasan ini terbukti menjadi koridor migrasi penting bagi 24 spesies laut yang dilindungi, termasuk paus biru, orca, dan hiu martil.
Kondisi ekosistem di wilayah ini terpantau sangat baik dengan tutupan terumbu karang mencapai 51,4 persen, jauh di atas rata-rata regional. Para peneliti bahkan menemukan koloni karang yang telah berusia hingga dua abad, menunjukkan bahwa perairan ini mampu bertahan dari dampak perubahan iklim dalam jangka waktu lama. Kelestarian ini didukung oleh ekosistem lamun yang sehat serta pasokan nutrisi melimpah dari Laut Banda dan Samudera Hindia, menjadikan kawasan tersebut sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati laut.
Keberhasilan menjaga kekayaan alam ini tidak lepas dari peran aktif masyarakat adat yang menerapkan kearifan lokal seperti praktik Sasi dan larangan adat terhadap perburuan spesies tertentu. Namun, tantangan besar tetap mengintai berupa praktik penangkapan ikan yang merusak dan polusi sampah plastik dari pihak luar. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah dan mitra lingkungan akan memperkuat pengawasan kolaboratif serta menggunakan pendekatan budaya Kalwedo untuk meningkatkan kesadaran konservasi bagi generasi muda di Maluku Barat Daya. Dikutip dari RRI.co.id
