Denpasar, Bali – Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau TPID Bali bersama pemerintah kabupaten dan kota menggelar 66 pasar murah sebagai langkah strategis menekan inflasi menjelang hari raya Imlek, Nyepi, dan Idul Fitri 2026. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menyatakan bahwa operasi pangan murah ini diperkuat untuk menjaga stabilitas harga dalam jangka pendek. Pelaksanaan pasar murah paling banyak dilakukan di Denpasar sebanyak 20 kali, diikuti Buleleng 12 kali, Karangasem 8 kali, dan tersebar di wilayah lainnya di seluruh Bali dengan prinsip tepat waktu, sasaran, dan kualitas.
Komoditas utama yang menjadi fokus pengendalian harga meliputi cabai rawit, beras, bawang merah, telur ayam, daging ayam, dan tomat, mengingat hari besar keagamaan tersebut jatuh berdekatan pada triwulan I 2026. Selain pasar murah, TPID Bali juga mengoptimalkan kerja sama antardaerah dan peran perusahaan umum daerah untuk menjaga daya beli masyarakat. Sepanjang tahun 2026, direncanakan total akan ada 317 kali pasar murah yang diselenggarakan di berbagai titik di Pulau Dewata.
Melalui upaya ini, TPID Bali optimis dapat menekan angka inflasi bulanan agar lebih rendah dari capaian tahun lalu yang sempat menyentuh 1,61 persen. Berdasarkan data terkini, inflasi Bali pada Januari 2026 tercatat sebesar 2,58 persen dengan target tahunan berada pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen. Penguatan koordinasi ini diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Bali yang pada tahun sebelumnya mampu mencapai angka 5,82 persen. Dikutip dari Antaranews.com
