Jakarta – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi mendorong kolaborasi strategis antara Indonesia dan Inggris di bidang riset kesehatan yang berorientasi pada hilirisasi. Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menegaskan bahwa kemitraan ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing nasional melalui riset multidisipliner yang mampu memberikan solusi nyata atas tantangan kesehatan di tanah air. Melalui keterangan resmi di Jakarta, Jumat (6/3/2026), Fauzan menyebutkan bahwa sinergi ini membuka peluang besar bagi transfer teknologi dan penguatan kapasitas peneliti Indonesia di kancah internasional.
Dalam kerangka kerja sama ini, fokus utama diarahkan pada Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) atau Technology Readiness Level (TRL) fase 4 hingga 6. Fase ini mencakup tahapan validasi, uji coba laboratorium, hingga peningkatan skala produksi. Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan (Dirjen Farmalkes) Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia, menambahkan bahwa Indonesia dan Inggris merupakan mitra yang saling melengkapi dalam spektrum transnasional. Dengan memadukan kekuatan ilmiah Inggris dan skala klinis serta biodiversitas Indonesia, kedua negara menargetkan penyampaian inovasi kesehatan yang kokoh secara sains sekaligus layak secara komersial.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut menekankan pentingnya memanfaatkan keunggulan komparatif masing-masing negara. Inggris dikenal memiliki jalur adopsi riset klinis yang matang, sementara Indonesia menawarkan populasi yang beragam serta kebutuhan kesehatan yang mendesak sebagai basis pengembangan inovasi. Melalui reformasi regulasi yang sedang berjalan, kolaborasi ini diharapkan tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu menghasilkan produk kesehatan yang berdampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat luas hingga tahun 2029. Dikutip dari Antaranews.com
