Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan pasokan cabai nasional berada dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadhan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah. Keamanan stok ini didukung oleh kontribusi besar dan surplus produksi dari dua daerah sentra utama di Jawa Timur, yaitu Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muh Agung Sunusi, menyatakan bahwa berdasarkan data Early Warning System (EWS) periode Maret–April 2026, kedua wilayah tersebut menunjukkan neraca produksi yang sangat positif untuk menjaga stabilitas pangan nasional.
Di Kabupaten Blitar, produksi cabai rawit merah pada Maret 2026 diperkirakan mencapai 7.050 ton dengan surplus sebesar 5.594 ton dari total luas tanam sekitar 6.000 hektare. Meskipun sempat menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), Kementan optimistis panen raya yang dimulai pada minggu kedua Maret akan mampu mengisi kebutuhan pasar hingga hari raya. Sementara itu, Kabupaten Kediri mencatatkan angka produksi yang lebih tinggi, yakni mencapai 11.166 ton dengan surplus sebesar 9.195 ton, di mana panen awal diperkirakan mencakup area seluas 3.100 hektare.
Guna menjaga keberlanjutan produksi di tengah cuaca ekstrem, Kementan mengimbau petani untuk memperkuat teknik budidaya, mulai dari penggunaan benih sehat hingga optimalisasi pemupukan. Selain itu, kolaborasi dengan Balai Perlindungan Tanaman (BPTPH) terus ditingkatkan untuk mengantisipasi wabah lalat buah dan antraknosa. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengapresiasi tren penurunan harga cabai saat ini dan menegaskan akan terus mengawal distribusi agar tidak terjadi permainan harga oleh pihak-pihak tertentu, sehingga kepentingan petani maupun konsumen tetap terlindungi selama periode hari besar keagamaan. Dikutip dari Antaranews.com
