JAKARTA – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita resmi mendorong diversifikasi pasar ekspor baja Indonesia dengan membidik kawasan Timur Tengah dan negara-negara industri berkembang. Langkah strategis ini diambil guna mengurangi ketergantungan besar pada China, yang saat ini menyerap lebih dari 17,9 miliar dolar AS atau sebagian besar dari total ekspor baja nasional tahun 2025 yang mencapai 29,7 miliar dolar AS. Menperin menegaskan bahwa diversifikasi pasar sangat krusial untuk menjaga ketahanan industri nasional dari potensi gejolak ekonomi atau turmoil di negara tujuan utama.
Pemerintah melihat peluang besar di Timur Tengah, terutama untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur dan fasilitas industri seperti kilang (refinery). Selain memperluas jangkauan geografis, Indonesia juga menyasar negara-negara yang basis industri bajanya belum kuat sebagai target pasar potensial baru. Meski kinerja ekspor-impor besi dan baja (HS 72–73) mencatatkan surplus volume sebesar 7,28 juta ton pada 2025, tantangan besar masih membayangi jika komoditas ferronikel dikeluarkan dari perhitungan, yang mana neraca perdagangan justru mengalami defisit sekitar 3,7 juta ton.
Guna menghadapi tantangan global seperti kelebihan kapasitas produksi dunia dan kebijakan lingkungan seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa, Kemenperin telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Strategi tersebut meliputi penguatan instrumen trade remedies, penerapan SNI secara konsisten, serta percepatan transformasi menuju industri baja hijau. Selain itu, pemerintah fokus pada pendalaman hilirisasi yang terintegrasi dengan sektor strategis seperti otomotif, perkapalan, dan infrastruktur untuk meningkatkan daya saing baja Indonesia di kancah internasional. Dikutip dari Antaranews.com
