Jakarta: Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menetapkan target produksi beras nasional sebesar 34,77 juta ton pada 2026. Langkah ini bertujuan memperkuat kedaulatan pangan dan menjaga keberlanjutan swasembada beras di Indonesia.
Selain beras, pemerintah juga menargetkan produksi sejumlah komoditas strategis lain, antara lain jagung 18 juta ton, cabai 3,08 juta ton, bawang merah 2 juta ton, tebu 39,5 juta ton setara 2,8 juta ton gula, kopi 786 ribu ton, kakao 633 ribu ton, kelapa 2,89 juta ton, daging sapi dan kerbau 514 ribu ton, serta daging ayam 4,34 juta ton.
Kementerian Pertanian memperoleh alokasi anggaran Rp40,15 triliun pada 2026, untuk program ketersediaan pangan berkualitas, penguatan daya saing industri, pendidikan dan pelatihan, serta dukungan manajemen. Seluruh anggaran telah diajukan ke Kementerian Keuangan dan menunggu penetapan DIPA serta Perpres APBN 2026 agar program berjalan tepat waktu.
Rencana kerja Kementan 2026 fokus pada peningkatan produksi padi, jagung, dan komoditas strategis lainnya melalui cetak sawah baru, optimalisasi lahan, penguatan irigasi, rehabilitasi kawasan konservasi, penyediaan benih unggul, alat dan mesin pertanian, pupuk bersubsidi, serta program penyuluhan dan regenerasi petani.
Data Kerangka Sampel Area (KSA) BPS menunjukkan produksi beras Januari–Desember 2025 diproyeksikan mencapai 34,77 juta ton, melebihi target 32 juta ton atau naik 13,54 persen. Stok beras nasional sempat mencapai 4,2 juta ton, menegaskan produksi yang jauh di atas proyeksi awal.
Prediksi internasional mendukung optimisme ini, dengan USDA memperkirakan produksi beras Indonesia musim tanam 2024–2025 mencapai 34,6 juta ton, dan FAO memperkirakan bisa menembus 35,6 juta ton pada 2025. Hal ini menegaskan bahwa Indonesia berada di jalur tepat untuk menjaga swasembada beras dan stabilitas harga nasional. Dikutip dari RRI.co.id
