Jakarta: Riset Katadata Insight Center (KIC) menunjukkan bahwa pelaku UMKM kini semakin memandang biaya tambahan di e-commerce sebagai investasi yang efektif meningkatkan penjualan. Survei dilakukan pada 602 seller UMKM yang sudah berjualan minimal satu tahun, disertai wawancara mendalam pada periode 19 September–9 Oktober 2025.
Direktur Eksekutif KIC, Fakhridho Susilo, menjelaskan bahwa seller semakin memahami struktur biaya platform, terutama admin fee yang paling banyak diketahui (41,5%), disusul payment fee, ongkir subsidi, hingga biaya promo dan iklan. Mayoritas seller menilai komponen biaya tersebut bagian dari strategi bisnis, dengan skor 8,39 dari skala 1–10. Mereka juga menganggap biaya platform sebagai investasi yang menghasilkan kontribusi signifikan bagi penjualan dan visibilitas produk.
Sebanyak 91,2% responden merasa biaya yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat yang diterima, seperti peningkatan traffic dan dukungan fitur promosi. Beberapa penjual, seperti Diah Ayu Normalitasari dari Diah Shop/Pawon Lita, menyebut biaya tambahan sebagai keniscayaan dalam menjalankan toko online dan diterima dengan baik oleh pelanggan.
Survei juga mengungkap bahwa komponen biaya terbesar dialokasikan untuk diskon atau promo (16,7%), diikuti biaya operasional tambahan, admin fee, iklan, dan kampanye. Seller di TikTok Shop, Tokopedia, dan Shopee tercatat mengeluarkan proporsi biaya promosi yang cukup besar. Shopee menjadi platform yang paling banyak dipilih (57,8%) karena dianggap cocok dengan target pasar dan mudah digunakan.
Tingkat pemahaman seller terhadap mekanisme biaya platform juga tinggi, dengan skor 8,38. Dampaknya terlihat jelas: 97,2% penjual mengalami kenaikan jumlah pembeli, 93,3% melihat peningkatan jumlah produk terjual, dan 91,7% mencatat omzet meningkat. Meski demikian, 31,7% seller masih menghadapi tantangan mengelola biaya platform dan program promo, sementara mayoritas lainnya merasa sudah mampu menanganinya dengan baik. Dikutip dari Metrotvnews.com
