Ribuan warga Kabupaten Agam, Sumatera Barat, hingga saat ini masih harus bertahan di lokasi pengungsian setelah bencana hidrometeorologi melanda wilayah tersebut beberapa minggu lalu. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam mencatat bahwa sebanyak 3.878 warga terdampak masih mengungsi. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan lembaga terkait dalam upaya penanganan dampak bencana.
Bencana yang mencakup banjir bandang, tanah longsor, banjir, dan angin puting beliung ini terjadi pada akhir November 2025, menyebabkan kerusakan parah di berbagai kecamatan. Warga yang mengungsi tersebar di beberapa wilayah, termasuk Palembayan, Palupuh, Tanjung Raya, Ampek Koto, Matur, dan Malalak. Mereka terpaksa meninggalkan rumah karena rusak atau berada di zona rawan bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmat Lasmono, menyatakan bahwa para pengungsi menempati lokasi seperti masjid, mushala, sekolah, dan posko pengungsian yang telah didirikan. Pihak berwenang terus berupaya memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi. Distribusi bahan pokok dilakukan secara berkala untuk mendukung operasional dapur umum di setiap lokasi pengungsian.
Sebaran Pengungsi dan Alasan Evakuasi
Data dari BPBD Agam merinci sebaran 3.878 warga yang masih berada di Pengungsian Bencana Agam. Kecamatan Tanjung Raya menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 2.118 orang. Disusul oleh Kecamatan Palembayan dengan 1.023 orang, dan Malalak sebanyak 330 orang.
Selain itu, Kecamatan Palupuh mencatat 198 pengungsi, Matur 156 orang, dan Ampek Koto 53 orang. Mereka mengungsi karena rumah tempat tinggalnya mengalami kerusakan parah akibat terjangan bencana. Beberapa lokasi juga teridentifikasi sebagai zona merah yang tidak aman untuk dihuni kembali dalam waktu dekat.
Rahmat Lasmono menjelaskan bahwa lokasi pengungsian sementara meliputi masjid, mushala, dan sekolah yang dianggap aman. Upaya evakuasi dan penempatan di lokasi yang lebih aman ini menjadi prioritas utama. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir risiko tambahan bagi warga yang terdampak.
Dampak Kerusakan dan Korban Jiwa Akibat Bencana
Bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Agam pada akhir November 2025 lalu tidak hanya menyebabkan ribuan warga mengungsi, tetapi juga menimbulkan kerugian material dan korban jiwa yang signifikan. BPBD Agam mencatat bahwa sebanyak 192 orang meninggal dunia akibat bencana ini, dengan 72 orang masih belum ditemukan hingga saat ini.
Selain itu, empat orang warga masih harus menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan. Kerusakan infrastruktur dan properti juga sangat masif. Tercatat 367 unit rumah mengalami rusak ringan, 287 unit rusak sedang, dan 851 unit rumah mengalami rusak berat, membuat banyak keluarga kehilangan tempat tinggal.
Infrastruktur publik juga tidak luput dari kerusakan. Sebanyak 21 titik jalan dan 28 titik jembatan mengalami kerusakan, menghambat aksesibilitas di beberapa wilayah. Fasilitas ibadah sebanyak 27 unit dan fasilitas pendidikan 114 unit juga rusak. Sektor pertanian turut terdampak dengan 2.044 hektare lahan pertanian rusak, 5.481 ekor ternak mati, dan 156 unit infrastruktur pertanian hancur.
Penanganan dan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pengungsi
Pemerintah daerah melalui BPBD Agam terus berupaya maksimal dalam penanganan Pengungsian Bencana Agam dan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi. Bahan pokok didistribusikan secara berkala untuk memastikan ketersediaan makanan di dapur umum. Hal ini penting untuk menjaga kesehatan dan nutrisi para korban bencana.
Rahmat Lasmono juga menegaskan bahwa saat ini tidak ada lagi warga yang terisolir. Akses jalan yang sebelumnya terputus akibat longsor dan banjir telah berhasil dibuka kembali menggunakan alat berat. Pembukaan akses ini mempermudah penyaluran bantuan dan evakuasi jika diperlukan.
Meskipun demikian, ada tantangan lain yang dihadapi, yaitu kesulitan air bersih di lima kecamatan terdampak. BPBD Agam sedang berkoordinasi untuk mencari solusi terbaik. Memastikan ketersediaan air bersih adalah prioritas untuk mencegah penyakit dan menjaga sanitasi di lokasi pengungsian.
Sumber: AntaraNews
