Rupiah Melemah ke Rp16.736 per Dolar AS, Tekanan Pasar Global Meningkat

Rupiah Melemah ke Rp16.736 per Dolar AS, Tekanan Pasar Global Meningkat

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,17 persen atau 28 poin ke level Rp16.736 per dolar AS, menunjukkan tekanan eksternal yang masih kuat terhadap mata uang Garuda.

Pelemahan rupiah terutama dipicu oleh penguatan dolar AS, yang didorong oleh turunnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada Desember 2025. Pelaku pasar menilai arah kebijakan moneter AS masih penuh ketidakpastian.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa sikap skeptis pejabat The Fed menjadi pendorong utama penguatan dolar.

“Para pejabat The Fed masih terpecah antara risiko inflasi dan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja,” ujar Ibrahim, Kamis (20/11/2025).

Risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) untuk bulan Oktober mengonfirmasi adanya perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed. Sebagian besar peserta rapat berpendapat bahwa penurunan suku bunga lebih lanjut berpotensi meningkatkan risiko inflasi.

“Berdasarkan pandangan mereka, mempertahankan suku bunga selama sisa tahun ini adalah langkah yang tepat,” tambah Ibrahim.

Sementara itu, pelaku pasar juga menantikan rilis laporan ketenagakerjaan AS bulan September yang sempat tertunda. Para ekonom memproyeksikan tambahan tenaga kerja sekitar 50 ribu, naik dari angka 22 ribu pada Agustus. Ibrahim menilai bahwa jika realisasi data lebih lemah dari perkiraan, pasar bisa kembali menguatkan ekspektasi terhadap pelonggaran suku bunga.


Faktor Domestik: NPI dan Modal Asing Mulai Menguat

Dari dalam negeri, pelaku pasar menyoroti perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang tahun ini diperkirakan tetap positif, ditopang oleh defisit transaksi berjalan yang rendah serta aliran modal masuk.

Investasi portofolio sempat mencatat arus keluar akibat ketidakpastian global. Namun, kondisi mulai membaik pada kuartal IV-2025, dengan aliran masuk modal asing mencapai USD1,8 miliar di pasar saham.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2025 meningkat menjadi USD149,9 miliar, memperkuat ketahanan eksternal dan menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika global.

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, pengamat memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek hingga arah kebijakan The Fed menjadi lebih jelas. Dikutip dari RRI.co.id