JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan terus memperkuat sinergi dengan Amerika Serikat (AS) dalam upaya pemulangan (repatriasi) artefak budaya Nusantara. Direktur Jenderal Diplomasi Budaya, Endah Retnoastuti, mengungkapkan bahwa kolaborasi strategis ini telah membuahkan hasil nyata, termasuk pengembalian tiga benda budaya penting pada 2024 seperti peninggalan masa Majapahit dan patung perunggu Dewa Siwa. Tren positif berlanjut hingga 2025 dengan diserahkannya koleksi berharga lain, mulai dari perisai perang Asmat, tongkat ritual Batak tunggal panaluan, hingga Arca Puspatara ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Saat ini, kerja sama bilateral tersebut memasuki fase krusial dengan rencana pemulangan delapan objek budaya asal Papua, yang terdiri dari tujuh benda bersejarah dan satu jenazah leluhur. Selain itu, pemerintah tengah mengawal proses pengembalian patung perunggu Surocolo yang sebelumnya tersimpan di Metropolitan Museum of Art. Langkah ini dibarengi dengan upaya Indonesia memajukan ratifikasi Konvensi UNESCO 1970 dan Konvensi UNIDROIT 1995 guna memperkuat payung hukum internasional dalam melindungi warisan nasional dari perdagangan ilegal.
Guna memperkokoh perlindungan jangka panjang, kedua negara kini menjajaki pembahasan Cultural Property Agreement (CPA). Direktur Eksekutif Antiquities Coalition, Tess Davis, menyebutkan bahwa perjanjian bilateral ini tidak hanya meningkatkan hubungan diplomatik, tetapi juga memperketat penegakan hukum terhadap penyelundupan benda bersejarah. Dengan adanya kerangka kerja ini, diharapkan pengamanan warisan budaya Nusantara semakin solid, sekaligus membuka jalan bagi pemulangan lebih banyak artefak penting Indonesia yang masih berada di luar negeri. Dikutip dari RRI.co.id
