Jakarta – Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengungkapkan sejumlah sektor strategis yang harus dipacu agar pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu menembus angka di atas 5 persen pada 2026. Menurutnya, pemerintah perlu mengombinasikan sektor manufaktur tradisional dengan hilirisasi sumber daya alam (nikel, tembaga, bauksit) untuk menciptakan nilai tambah ekspor. Penguatan industri pengolahan yang menyumbang sekitar 20 persen terhadap PDB, serta pembangunan rantai pasok baterai kendaraan listrik nasional, menjadi kunci utama dalam menggerakkan roda ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Selain manufaktur, sektor pertanian dan ketahanan pangan kini bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan baru setelah mencatatkan kenaikan signifikan di atas 5 persen pada 2025. Rahma menekankan pentingnya penyederhanaan distribusi pupuk, modernisasi alat pertanian, dan stabilitas harga pangan untuk menjaga daya beli masyarakat yang berkontribusi 54 persen terhadap PDB. Langkah ini didukung oleh percepatan realisasi belanja pemerintah melalui proyek infrastruktur padat karya seperti pembangunan irigasi dan jalan guna memperluas lapangan kerja dan menstimulus ekonomi domestik.
Sektor energi hijau, khususnya program Biodiesel B50 yang dijadwalkan meluncur Juli 2026, diprediksi menjadi penghemat anggaran negara hingga Rp48 triliun. Optimisme ini sejalan dengan pernyataan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang menyoroti kuatnya fundamental domestik serta peningkatan penerimaan pajak sebesar 14,3 persen pada kuartal I 2026. Dengan menjaga disiplin fiskal dan rasio utang di level 40 persen, pemerintah berkomitmen memperkuat ekosistem ekonomi digital dan investasi asing (FDI) sebagai pilar berkelanjutan bagi ketahanan ekonomi nasional. Dikutip dari Antaranews.com
