BI Ungkap Penyebab Rupiah Anjlok, Sentimen Risk Off Memburuk

BI Ungkap Penyebab Rupiah Anjlok, Sentimen Risk Off Memburuk

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dipengaruhi memburuknya sentimen risk off di pasar keuangan global. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS serta memicu arus keluar dana dari portofolio aset negara-negara emerging markets di tengah kenaikan imbal hasil obligasi. Pada pembukaan perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026, rupiah anjlok ke level Rp17.953 per dolar AS. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menjelaskan bahwa sentimen risk off terjadi ketika ketidakpastian global meningkat sehingga investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dinilai lebih aman.

Menurut Erwin, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi inflasi Amerika Serikat yang tercatat lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan menerapkan kebijakan suku bunga yang lebih agresif. Selain itu, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah membuat harga minyak bertahan di atas USD105 per barel dan meningkatkan risiko fiskal ke depan. Erwin menambahkan, indeks dolar AS sempat melonjak ke level tertinggi sejak Mei 2025, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor dua tahun naik 12 basis poin menjadi 4,90 persen. Meski demikian, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan pelemahan terbatas sebesar 0,17 persen secara quarter-to-date (QTD). Cadangan devisa Indonesia juga tetap terjaga sebesar USD146,3 miliar pada akhir September 2026.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar keuangan. Upaya tersebut dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. BI juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang dan menjaga kecukupan likuiditas guna mendukung stabilitas keuangan. Erwin menegaskan, koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar akan terus dilakukan secara intensif. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga stabilitas rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia. Dikutip dari rri.co.id