Mataram – Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima Dompu Indonesia (APPSBDI) melaporkan adanya tekanan berat pada margin keuntungan peternak akibat melonjaknya biaya logistik menjelang Idul Adha 2026. Ketua APPSBDI, Furqan Sangiang, mengungkapkan bahwa tarif sewa armada pengangkut seperti truk Fuso dan Tronton naik hingga puluhan persen. Saat ini, harga sewa Fuso melonjak dari Rp18 juta menjadi Rp24 juta per unit, sementara tarif Tronton meroket hingga Rp32 juta, yang secara langsung menggerus pendapatan para peternak dari wilayah Bima, Dompu, dan Sumbawa.
Tingginya biaya distribusi ini dipicu oleh besarnya volume pengiriman sapi kurban asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ke wilayah Jabodetabek yang mencapai 20.000 ekor setiap tahunnya. Dengan kebutuhan armada hingga 600 unit tronton per musim, mobilitas logistik pada puncak distribusi bahkan menyentuh angka 45 truk atau setara 1.100 ekor sapi per hari. Meskipun proses distribusi tahun 2026 dinilai lebih lancar dengan antrean singkat dan penurunan risiko kematian ternak, ketergantungan pada armada luar daerah membuat posisi tawar peternak melemah saat menghadapi lonjakan harga sewa kendaraan.
Guna mengatasi persoalan ini, APPSBDI menyarankan Pemerintah Daerah untuk menginisiasi skema koordinasi satu pintu dengan perusahaan transportasi besar guna menstabilkan tarif logistik. Berdasarkan data Balai Karantina NTB per 27 April 2026, distribusi sapi ke luar daerah memang didominasi oleh pasar Jabodetabek yang mencapai 25.974 ekor. Langkah fasilitasi dari pemerintah sangat krusial untuk memastikan ketersediaan armada dengan harga yang rasional, sehingga potensi ekonomi peternakan NTB dapat terserap maksimal tanpa terbebani ongkos distribusi yang mencekik. Dikutip dari Antaranews.com
