IHSG Menguat 0,82 Persen ke Level 5.974 pada Sesi I Perdagangan

IHSG Menguat 0,82 Persen ke Level 5.974 pada Sesi I Perdagangan

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada penutupan sesi pertama perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. IHSG naik 48,312 poin atau 0,82 persen ke level 5.974,28. Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di level 5.940,67 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 6.009,95 serta terendah 5.906,74. Aktivitas perdagangan mencatat sebanyak 391 saham menguat, 227 saham melemah, dan 170 saham stagnan. Volume transaksi mencapai 18,136 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp6,231 triliun.

Tim Pilarmas Investindo Sekuritas menilai penguatan IHSG didukung oleh membaiknya sentimen pasar global dan domestik. Di kawasan Asia, sentimen positif muncul setelah pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, mengenai arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS). Selain itu, kinerja perdagangan Tiongkok turut menjadi perhatian setelah ekspor pada September 2026 tumbuh dengan laju tercepat sejak awal 2021, sementara impor yang melampaui ekspektasi menunjukkan ketahanan permintaan eksternal. Dari dalam negeri, Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1 persen dari sebelumnya 5 persen. Ketahanan ekonomi nasional serta upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat dan meningkatkan belanja pemerintah dinilai berpotensi memperkuat kepercayaan investor.

Meski IHSG menguat, investor tetap perlu mencermati risiko geopolitik global yang dapat memicu volatilitas pasar keuangan. Pada perdagangan sesi pertama, saham TRON, SONA, BLTZ, PTSP, dan ARTA mencatat kenaikan terbesar, sedangkan SOSS, ASMI, ALKA, PICO, dan PCAR masuk dalam daftar saham dengan penurunan terbesar. Untuk rekomendasi saham, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham WIFI dengan strategi beli (buy) pada rentang level support dan resistance 1.290–1.500. Pelaku pasar diharapkan tetap memperhatikan perkembangan ekonomi global, kebijakan suku bunga AS, serta dinamika geopolitik dalam menentukan strategi investasi. Dikutip dari rri.co.id