JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026. Data Bloomberg mencatat rupiah merosot 0,12 persen atau 20 poin ke posisi Rp18.042 per dolar AS pada pembukaan pagi, setelah sehari sebelumnya ditutup melemah 0,17 persen di level Rp18.022 per dolar AS. Analis Pasar Uang MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai kecenderungan pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.
Secara teknikal, pergerakan rupiah masih membayangi area sensitif yang berpotensi memicu tekanan lanjutan. Herditya memproyeksikan rupiah sebenarnya memiliki peluang menguat terbatas di rentang Rp18.005 hingga Rp18.041 per dolar AS, namun ia mewaspadai titik risiko di level Rp18.085 per dolar AS. Jika rupiah menembus batas atas tersebut, mata uang domestik berisiko terdepresiasi lebih dalam menuju kisaran Rp18.198 hingga Rp18.240 per dolar AS, di tengah pergerakan indeks dolar AS yang berada di posisi 101,64.
Di sisi lain, keputusan BI mempertahankan 7-Day Reverse Repo Rate dinilai mengejutkan pasar. Analis Pasar Uang Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, mengungkapkan bahwa mayoritas pelaku pasar sebelumnya mengantisipasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober 2026. Selain itu, BI juga menaikkan suku bunga fasilitas deposit menjadi 5 persen dan mempertahankan fasilitas pinjaman sebesar 6,5 persen. Menyempitnya koridor suku bunga menjadi 150 bps ini membatasi peluang kenaikan suku bunga lanjutan, kecuali jika rupiah terus bertahan di atas Rp18.000 per dolar AS atau terjadi lonjakan net outflow modal asing pada instrumen SRBI dan SBN. Dikutip dari rri.co.id
