JAKARTA – Analis dan Pemerhati Pertahanan dari Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (Keris), Hanif Rahadian, menilai kehadiran jet tempur Rafale di Indonesia wajib didukung oleh kekuatan industri pertahanan (inhan) dalam negeri. Langkah ini dinilai krusial agar pemerintah tidak ketergantungan pada negara asing terkait pemenuhan suku cadang, pemeliharaan, serta teknologi pelengkap operasional. Penguatan inhan domestik juga menjadi benteng antisipasi jika konflik global memburuk dan menghambat jalur produksi di negara pabrikan asal alutsista tersebut.
Hanif berharap momentum kedatangan Rafale ini dapat memancing industri pertahanan nasional untuk terus meningkatkan inovasi produknya. Dengan inhan dalam negeri yang mandiri, armada TNI AU dipastikan dapat beroperasi secara maksimal dan konsisten dalam jangka panjang demi menghadapi situasi genting. Menurutnya, penguatan kapasitas industri nasional adalah kunci utama agar dukungan keberlanjutan (sustainment) pertahanan udara Indonesia dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.
Pernyataan ini mencuat setelah TNI AU resmi menerima enam unit perdana jet tempur Rafale beserta perangkat rudalnya di Lanud Halim Perdanakusuma, Senin (18/5). Penyerahan simbolis dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto kepada Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, yang kemudian diteruskan kepada KSAU Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana untuk ditempatkan di Skadron 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru. Saat ini, Indonesia masih menunggu kedatangan 36 unit Rafale lainnya yang sedang diproduksi oleh Dassault Aviation di Prancis. Dikutip dari Antaranews.com
