Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menjadi opsi terakhir apabila lonjakan harga minyak dunia terus menekan kapasitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam taklimat media di Kantor Kementerian Keuangan, Jumat (6/3/2026), Purbaya menjelaskan bahwa kenaikan harga terpaksa dilakukan jika anggaran negara sudah tidak lagi mampu menopang beban subsidi yang membengkak akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Kementerian Keuangan memproyeksikan defisit APBN berisiko melebar hingga 3,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) jika harga minyak dunia bertahan di level 92 dolar AS per barel sepanjang tahun tanpa adanya intervensi. Saat ini, harga minyak jenis Brent telah melonjak ke angka 85,41 dolar AS per barel, jauh melampaui rata-rata harga pada Januari 2026 yang berada di kisaran 64 dolar AS per barel. Untuk memitigasi dampak tersebut, pemerintah menyiapkan langkah strategis mulai dari realokasi belanja program non-prioritas hingga pengalihan anggaran pendukung operasional yang tidak berdampak langsung pada masyarakat.
Purbaya mencontohkan, efisiensi dapat dilakukan pada kegiatan pendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), seperti pengadaan kendaraan bermotor operasional, tanpa mengganggu fungsi inti penyediaan gizi bagi publik. Meski tekanan global meningkat, Menkeu optimis Indonesia mampu bertahan mengingat pengalaman sejarah saat harga minyak mencapai 150 dolar AS per barel. Sementara itu, Kementerian ESDM memberikan jaminan bahwa harga BBM subsidi tetap stabil dan stok dipastikan aman menjelang momen hari raya Idul Fitri guna menjaga daya beli masyarakat. Dikutip dari Antaranews.com
