Tekanan terhadap pergerakan rupiah diproyeksi masih berlanjut dan dinilai belum sepenuhnya mereda dalam waktu dekat.
Pelemahan mata uang Garuda saat ini tidak semata dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS), tetapi juga faktor domestik.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah Rp 17.346 per dolar AS pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Ini adalah level penutupan terburuk bagi rupiah sepanjang masa.
Secara bulanan, rupiah pun sudah melemah 1,79% dan secara tahun berjalan anjlok 3,99%.
Tekanan terhadap rupiah juga tercermin dari pergerakannya terhadap sejumlah mata uang global lainnya. Terhadap poundstreling, rupiah tercatat melemah 3,88% MoM dan turun 4,42% tahun berjalan, CHF/IDR menguat 3,14% MoM dan 4,58% YtD dan AUD/IDR melonjak 5,77% MoM dan 9,98% YtD.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, pergerakan mayoritas pasangan mata uang yang menguat terhadap rupiah mencerminkan kombinasi kuatnya dolar AS, arus keluar dana asing, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik.
“Menurut saya pelemahannya masih tergolong “bisa dijelaskan pasar”, tetapi mulai terasa berlebihan jika tidak diikuti perbaikan fundamental dan stabilisasi sentimen,” kata Budi kepada Kontan pada Jumat (30/4/2026).
Di sisi lain, penguatan dolar Australia terhadap rupiah menjadi yang paling mencolok. Hal ini dipicu oleh dua faktor sekaligus, yakni pelemahan rupiah dan penguatan dolar Australia yang terdorong oleh rebound harga komoditas serta sentimen positif dari China.
Secara teknikal, Budi melihat level psikologis berikutnya bagi rupiah berada di kisaran Rp 17.500 per dolar AS.
Sementara itu, jika terjadi pembalikan arah, level support terdekat diperkirakan berada di rentang Rp 16.900 hingga Rp 17.000 per dolar AS.
Ia juga mengingatkan adanya risiko skenario terburuk, yakni jika penguatan indeks dolar berlanjut, arus keluar asing meningkat, tensi global memanas, dan muncul keraguan terhadap stabilitas fiskal domestik secara bersamaan.
“Jika kondisi tersebut terjadi secara bersamaan, rupiah berpotensi mengalami overshooting dalam jangka pendek,” ujar Budi.
Sumber Kontan
