JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan sesi I, Rabu (20/05), parkir di zona merah. IHSG melemah 38,50 poin atau 0,60 persen ke posisi 6.332,18, sementara indeks LQ45 justru menguat tipis 0,04 persen ke level 635,05. Penurunan indeks acuan hari ini utamanya terseret oleh anjloknya saham-saham di sektor basic materials (barang baku) yang merosot 4,07 persen dan sektor energi yang terpangkas 2,73 persen. Sepanjang sesi pertama, perdagangan terpantau sangat dinamis dengan nilai transaksi mencapai Rp13,67 triliun dari 27,55 miliar lembar saham yang ditransaksikan.
Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama mengungkapkan bahwa koreksi saham komoditas dipicu oleh kekhawatiran investor terkait pidato Presiden mengenai pembentukan badan khusus ekspor komoditas, yang dinilai berpotensi mengintervensi margin emiten. Selain itu, pelaku pasar juga cenderung mengambil sikap wait and see menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait kepastian BI-Rate siang ini. Sentimen positif dari efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi Rp268 triliun sayangnya belum cukup kuat untuk menahan aksi ambil untung (profit taking) yang masif di lantai bursa.
Dari faktor eksternal, tekanan pasar diperparah oleh ketidakpastian arah suku bunga The Fed dan lonjakan yield US Treasury yang memicu penguatan dolar AS. Kondisi ini membuat investor asing bersikap lebih defensif dan selektif terhadap pasar berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Secara keseluruhan, pergerakan indeks di sesi I diwarnai oleh tumbangnya 521 saham, sementara hanya 165 saham yang berhasil menguat, dan 128 saham lainnya stagnan. Saham-saham seperti TPIA dan SMMT menjadi beberapa yang mencatat pelemahan terdalam pada perdagangan kali ini. Dikutip dari Antaranews.com
