Rupiah Melemah, Pakar Wanti-Wanti Kenaikan Harga Bahan Baku Impor

Rupiah Melemah, Pakar Wanti-Wanti Kenaikan Harga Bahan Baku Impor

JAKARTA – Pakar Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Profesor Hamid Paddu, memperingatkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp17.529 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026 akan berdampak signifikan pada lonjakan harga bahan baku impor. Sektor yang paling terancam adalah harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, mengingat Indonesia telah menjadi net importir minyak sejak tahun 2004. Saat ini, produksi minyak dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 650 ribu barel dari total kebutuhan nasional yang mencapai 1,6 juta barel per hari, sehingga lebih dari 50 persen sisanya wajib dipenuhi melalui jalur impor menggunakan valuta asing.

Kondisi ini kian memberatkan karena beban sektor energi nasional kini harus menghadapi tekanan ganda (double hit). Nilai tukar rupiah dan harga minyak dunia saat ini telah melonjak jauh melampaui asumsi APBN 2026, di mana kurs rupiah kini bertengger di atas Rp17.500 (asumsi APBN Rp16.500/dolar AS) dan harga minyak dunia menyentuh 105 dolar AS per barel (asumsi APBN 70 dolar AS per barel). Menurut Hamid, dengan tingginya biaya pengadaan minyak mentah akibat kombinasi meroketnya harga pasar global dan melemahnya kurs rupiah, potensi penyesuaian harga jual produk energi di tingkat domestik menjadi hal yang tidak dapat dihindari.

Oleh karena itu, Hamid menilai sangat wajar jika badan usaha sektor energi, termasuk Pertamina, akan segera menaikkan harga BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar komoditas. Langkah penyesuaian ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas finansial perusahaan dan menjamin kelancaran pasokan energi nasional di tengah prediksi pelemahan rupiah yang diperkirakan masih berlanjut hingga akhir tahun. Ia juga menambahkan bahwa masyarakat saat ini sudah memiliki literasi energi yang baik dan memahami bahwa fluktuasi harga BBM nonsubsidi sepenuhnya bergantung pada dinamika harga bahan baku global, sehingga penyesuaian harga tersebut diproyeksikan tidak akan memicu gejolak sosial. Dikutip dari Antaranews.com