Menghemat Beberapa Menit, Mempertaruhkan Keselamatan: Refleksi soal Lawan Arah

Menghemat Beberapa Menit, Mempertaruhkan Keselamatan: Refleksi soal Lawan Arah

Setiap hari, di berbagai ruas jalan mulai dari Kampung Melayu, Kalibata, hingga Cawang, pengendara yang melawan arus masih mudah dijumpai. Bagi sebagian orang, tindakan ini dianggap solusi praktis untuk menghindari putaran jauh atau mengejar waktu. Namun di balik alasan yang tampak sepele itu, ada risiko keselamatan yang ditanggung bukan hanya oleh pelaku, tetapi juga pengguna jalan lain.

Melawan arus sejatinya bukan sekadar pelanggaran rambu. Tindakan ini merampas hak pengendara lain untuk berkendara dengan rasa aman, karena mereka dipaksa bereaksi terhadap kendaraan yang muncul dari arah yang tidak semestinya diprediksi.

Berbagai perangkat keselamatan seperti rambu larangan, marka jalan, dan pembatas fisik sudah disiapkan pemerintah. Petugas di lapangan juga terus melakukan pengaturan. Namun semua itu tidak akan optimal tanpa kesadaran dari pengguna jalan itu sendiri.

Waktu yang dihemat dari memutar arah biasanya hanya beberapa menit, jauh tidak sebanding dengan risiko kecelakaan yang mungkin terjadi. Membangun budaya tertib di jalan raya karena itu perlu dimulai dari keputusan sederhana: tetap berada di jalur yang benar, meski tergesa-gesa.