Jakarta – Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi sekaligus memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. Kebijakan ini diperkuat melalui penguatan strategi operasi moneter pro-market, peningkatan insentif swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF), serta perluasan transaksi underlying guna mengelola struktur suku bunga dan menjaga kecukupan likuiditas valas di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini utamanya dipicu oleh ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat di tengah kekhawatiran inflasi global, lonjakan imbal hasil US Treasury, serta eskalasi konflik Timur Tengah yang mendongkrak harga minyak dunia. Selain itu, faktor domestik seperti kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan dan keluurnya arus modal portofolio dari pasar negara berkembang turut memberikan tekanan tambahan pada pergerakan rupiah.
Kendati demikian, BI menegaskan bahwa kinerja rupiah secara umum masih bergerak sejalan dengan mata uang kawasan dengan penguatan quarter to date sebesar 0,46 persen, didukung pula oleh posisi cadangan devisa nasional yang tetap kuat di angka 146,5 miliar dolar AS per akhir Agustus 2026. Intervensi konsisten di pasar spot, DNDF, maupun SBN sekunder akan terus dioptimalkan bersama koordinasi erat dengan korporasi demi meredam gejolak lanjutan. Dikutip dari Antaranews.com
