Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat pagi, 11 September 2026, melemah 36,55 poin atau 0,55 persen ke level 6.552,79. Pelemahan IHSG mengikuti pergerakan bursa saham Asia dan global yang tertekan kenaikan harga minyak mentah dunia serta meningkatnya ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan mengambil kebijakan hawkish pada pertemuan September 2026. Indeks LQ45 juga turun 3,28 poin atau 0,50 persen menjadi 652,70.
Tekanan terhadap IHSG turut dipengaruhi data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan inflasi produsen lebih tinggi dari perkiraan. PPI headline Agustus 2026 naik 0,4 persen secara bulanan dan 5,4 persen secara tahunan, sedangkan PPI inti meningkat 0,2 persen secara bulanan dan 4,6 persen secara tahunan. Kondisi tersebut mendorong pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September mencapai sekitar 73 persen. Di sisi lain, eskalasi konflik AS-Iran turut mendorong kenaikan harga minyak, dengan Brent melonjak 8,7 persen menjadi 109,97 dolar AS per barel dan WTI naik 8,54 persen menuju 104 dolar AS per barel.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai kenaikan harga minyak dapat meningkatkan risiko tekanan inflasi sekaligus membebani anggaran pemerintah melalui subsidi dan kompensasi energi. Meski demikian, ruang fiskal Indonesia dinilai masih cukup memadai dengan defisit APBN hingga Juli 2026 sebesar 0,91 persen terhadap PDB dan sekitar 0,95 persen pada Agustus. Dari sisi teknikal, IHSG berpeluang rebound menuju area 6.673-6.723 jika mampu bertahan, dengan resistance berikutnya di 6.859. Namun, apabila menembus level 6.520, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju 6.420 dengan support berikutnya di 6.377. Dikutip dari Antaranews.com
