JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyoroti tingginya biaya produksi beras di Indonesia yang saat ini menembus Rp12.000 hingga Rp14.000 per kilogram. Dalam pembukaan pameran pertanian Agrinex di Jakarta, Jumat, Menko Zulhas mengungkapkan bahwa angka tersebut jauh melampaui biaya produksi di negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam yang berada di kisaran Rp4.000 per kilogram. Ketimpangan biaya produksi ini dinilai menjadi tantangan besar bagi produktivitas dan kesejahteraan petani lokal, sekaligus memicu tingginya ketergantungan pasokan impor beras yang sempat menyentuh angka 4,5 juta ton pada 2024.
Rendahnya indeks pertanaman nasional diakui Zulkifli berakar dari buruknya pengelolaan irigasi daerah serta alur penebusan pupuk bersubsidi yang berbelit-belit. Dari total 7,4 juta hektare luas sawah nasional, luas tanamnya hanya mencapai 10 juta hektare karena mayoritas lahan hanya mampu ditanami satu kali dalam setahun akibat kerusakan irigasi. Menurutnya, pembagian kewenangan irigasi antara bupati dan gubernur selama ini memicu ketidakpastian anggaran pembangunan, sehingga pemerintah pusat memutuskan untuk mengambil langkah perbaikan menyeluruh guna memangkas ketidakefisienan produksi dari sektor hulu.
Guna mengejar target swasembada pangan, pemerintah melakukan reformasi regulasi secara masif dengan memangkas 145 aturan penyaluran pupuk bersubsidi menjadi hanya tiga aturan melalui Peraturan Presiden (Perpres). Langkah penyeragaman birokrasi ini terbukti berhasil melonjakkan penyerapan pupuk bersubsidi dari 6 juta ton menjadi 9,5 juta ton. Selain itu, pemerintah turut merevisi regulasi harga pembelian gabah di tingkat petani menjadi Rp6.500 per kilogram tanpa persyaratan kadar air, yang sukses mendongkrak Nilai Tukar Petani (NTP) dari posisi 116 ke angka 131. Dikutip dari Antaranews.com
