JAKARTA — Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, mendorong agar kawasan Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur, tidak hanya sekadar menjadi tempat ziarah sejarah. Dalam diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion) bersama Pusat Sejarah (Pusjarah) TNI di Jakarta, Senin (6/7), Fadli menegaskan pentingnya melakukan revitalisasi komprehensif pada narasi dan konten museum terbuka (open air museum) tersebut. Langkah pembaruan ini diharapkan mampu mengubah kawasan bersejarah tersebut menjadi ruang edukasi yang lebih hidup, interaktif, dan mudah dipahami oleh generasi muda.
Fadli Zon menekankan bahwa proses revitalisasi tidak boleh mengubah esensi sejarah, melainkan harus bersandar kuat pada fakta-fakta sejarah yang valid melalui dokumen, arsip resmi, dan surat kabar lama. Untuk mewujudkan hal tersebut, ia mengusulkan pembaruan serta penambahan koleksi agar runtutan peristiwa pemberontakan pascakemerdekaan dapat ditampilkan secara lengkap. Selain itu, penataan ulang alur kunjungan—di mana pengunjung diarahkan ke museum terlebih dahulu sebelum menuju situs Lubang Buaya—juga disiapkan guna memberikan pengalaman napak tilas yang lebih utuh dan komprehensif.
Guna menarik minat generasi muda, Kementerian Kebudayaan berencana menyuntikkan pemanfaatan teknologi modern, seperti teknologi immersive dan visualisasi diorama yang lebih kuat, agar suasana museum tidak terasa kaku. Rencana besar ini mendapat dukungan penuh dari pihak Pusjarah TNI. Kepala Bidang Umum Pusjarah TNI, Kolonel Czi Dwi Imam Subagyo, menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dan menyuplai berbagai dokumen serta data sejarah penting demi memperkuat fungsi Monumen Pancasila Sakti sebagai bagian dari memori kolektif bangsa. Dikutip dari RRI.co.id
