Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mempertimbangkan pemindahan armada Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari sejumlah wilayah yang mulai diguyur hujan ke daerah yang masih membutuhkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini dilakukan menyusul hasil evaluasi kondisi cuaca di sejumlah daerah, termasuk Sumatera Selatan, Jambi, Riau, dan Kalimantan Barat yang mulai mengalami hujan. Kepala BNPB Letjen Kristomei Sianturi mengatakan, evaluasi dilakukan untuk menentukan wilayah yang masih membutuhkan operasi modifikasi cuaca serta daerah yang sudah tidak memerlukannya. Hal tersebut disampaikan dalam rapat evaluasi di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Seiring perubahan kondisi cuaca, BNPB mempertimbangkan untuk menggeser armada modifikasi cuaca ke sejumlah wilayah yang masih berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan. Daerah yang menjadi perhatian meliputi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua Selatan. Kristomei menyebut pemindahan armada diperlukan agar dukungan penanganan karhutla dapat dilakukan secara lebih optimal di wilayah yang masih membutuhkan. BNPB juga membuka kemungkinan penambahan aset operasi modifikasi cuaca apabila diperlukan untuk memperkuat upaya penanganan karhutla di daerah tersebut.
Selain mengevaluasi penanganan karhutla, BNPB mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah akibat peralihan musim kemarau ke musim hujan. Sebagai langkah antisipasi, Kepala BNPB telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2026 tentang Langkah-Langkah Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Hujan Tahun 2026/2027 pada 30 Oktober 2026. Surat edaran tersebut ditujukan kepada seluruh gubernur, bupati, dan wali kota agar meningkatkan kesiapan personel, peralatan, serta kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, khususnya banjir. BNPB mengingatkan pemerintah daerah untuk mewaspadai perubahan ancaman bencana, mengingat sejumlah wilayah mulai mengalami banjir seiring meningkatnya curah hujan. Dikutip dari Suara.com
