Jakarta – Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengimbau para investor pasar modal untuk tetap rasional dalam menghadapi ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Imbauan ini muncul menyusul melemahnya bursa-bursa di kawasan Asia pada perdagangan Senin (2/3/2026), termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka terkoreksi 23,95 poin atau 0,29 persen ke level 8.211,31. Jeffrey menekankan pentingnya bagi investor untuk selalu memperhatikan aspek fundamental emiten sebelum mengambil keputusan investasi.
Eskalasi ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yang dikenal dengan kode Operation Epic Fury, telah memicu reaksi berantai di pasar keuangan internasional. Beberapa bursa di kawasan Teluk, seperti Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait, bahkan sempat menghentikan aktivitas perdagangan guna memitigasi risiko. Jeffrey mengingatkan para investor domestik untuk segera menyesuaikan strategi investasi mereka dengan tetap mempertimbangkan toleransi risiko masing-masing di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang pesat.
Dampak dari konflik ini tidak hanya menyasar sektor keuangan, tetapi juga mengancam jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan rute transit krusial bagi sekitar 20 hingga 25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia. Potensi penutupan Selat Hormuz dikhawatirkan akan mengguncang pasar energi global, memicu lonjakan harga minyak dunia, serta mengganggu rantai pasok energi internasional. Oleh karena itu, BEI terus memantau situasi secara saksama guna menjaga stabilitas pasar modal Indonesia dari dampak sentimen eksternal tersebut. Dikutip dari Antaranews.com
