JAKARTA – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai kebijakan baru pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) berperan krusial sebagai lapisan pertahanan tambahan bagi stabilitas eksternal Indonesia. Langkah strategis ini diyakini mampu memperkuat likuiditas valuta asing (valas) domestik, membantu stabilisasi pasar keuangan, serta memberikan ruang bernapas yang lebih besar bagi sistem perbankan nasional. Kebijakan tersebut sangat relevan dengan upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan pasokan dolar AS di dalam negeri, terutama di tengah tingginya tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi pasar keuangan hingga saat ini.
Manfaat utama dari instrumen DHE SDA ini bukan terletak pada peningkatan cadangan devisa negara secara langsung, melainkan pada bertambahnya pasokan likuiditas dolar di sistem perbankan nasional. Selama ini, sebagian besar devisa hasil ekspor tidak bertahan lama di dalam negeri karena langsung dikonversi ke mata uang rupiah atau dialihkan untuk kebutuhan operasional lain, sehingga pasokan valas domestik menjadi relatif terbatas. Dengan melimpahnya likuiditas valas di pasar dalam negeri, perbankan nasional kini memiliki akses pendanaan dolar AS yang lebih kuat untuk meredam gejolak sentimen eksternal serta meminimalisasi volatilitas nilai tukar yang berlebihan.
Di sisi lain, kebijakan ini juga membuka potensi pemanfaatan dana DHE sebagai agunan atau jaminan kredit modal kerja bagi para eksportir. Skema ini dinilai sangat produktif karena memungkinkan pelaku usaha tetap memperoleh fleksibilitas likuiditas, sementara perbankan mendapat peluang ekspansi pembiayaan dengan profil risiko yang lebih terukur. Ditambah dengan insentif perpajakan menarik yang disiapkan pemerintah, eksportir diharapkan terdorong untuk memarkir dana mereka lebih lama di dalam negeri. Kendati demikian, efektivitas kebijakan ini akan sangat bergantung pada kemampuan sistem keuangan domestik dalam menyalurkan dana mengendap tersebut ke sektor-sektor riil yang produktif demi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dikutip dari Antaranews.com
