IHSG Terancam Jatuh ke Level 3.700, Ini Skenario yang Perlu Diwaspadai

IHSG Terancam Jatuh ke Level 3.700, Ini Skenario yang Perlu Diwaspadai

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tekanan akibat ketidakpastian potensi perubahan status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi Standalone Market. Meski sempat mengalami pemulihan teknikal yang didorong kenaikan saham perbankan, BNI Sekuritas memperingatkan risiko aksi jual bersih (net sell) investor asing masih tinggi. Tekanan tersebut diperburuk oleh belum kembalinya aliran modal asing, ketidakpastian politik dan regulasi domestik, serta ancaman penutupan pemerintahan Amerika Serikat (US Government Shutdown).

BNI Sekuritas menilai investor perlu menerapkan strategi defensif untuk mengantisipasi potensi pelemahan IHSG. Beberapa langkah yang disarankan meliputi memantau arus modal asing, membatasi risiko melalui strategi cut loss jika tekanan jual berlanjut, serta menghindari strategi buy and hold pada saham perbankan selama ketidakpastian status MSCI masih berlangsung. Investor juga diarahkan untuk mencermati sektor barang konsumsi atau consumer goods, seperti CMRY, ULTJ, KLBF, dan AMRT, serta menjaga alokasi dana tunai lebih dari 50 persen dari total portofolio guna menghadapi volatilitas pasar.

Dari sisi analisis teknikal, IHSG saat ini menghadapi area resistansi kuat di level 5.050–5.150. Apabila belum mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, indeks berpotensi mengalami koreksi lanjutan menuju area support 4.600–4.800. Bahkan, dalam skenario terburuk apabila MSCI benar-benar menetapkan status Standalone Market bagi Indonesia, BNI Sekuritas memperkirakan IHSG berisiko merosot hingga kisaran 3.700–4.000. Kondisi ini membuat pelaku pasar perlu mencermati perkembangan kebijakan MSCI dan pergerakan investor asing sebelum mengambil keputusan investasi. Dikutip dari Suara.com