Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh level Rp17.503 per dolar AS pada perdagangan Selasa siang pukul 11.47 WIB. Pelemahan sebesar 89 poin atau 0,51 persen tersebut dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas ekonomi dan pasokan energi dunia.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut konflik di Selat Hormuz masih memanas meskipun sebelumnya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan perang telah usai. Ketegangan dipicu penolakan Amerika Serikat terhadap proposal perdamaian Iran, yang kemudian memunculkan serangan kecil antar kapal di kawasan tersebut. Selain itu, keterlibatan Uni Emirat Arab dalam serangan terhadap fasilitas minyak Iran turut memperburuk situasi dan mendorong penguatan indeks dolar AS serta kenaikan harga minyak mentah dunia.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I-2026 belum cukup kuat menopang penguatan rupiah. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya dan dominasi pekerja sektor informal di Indonesia. Pasar juga masih menunggu rilis data dari MSCI yang berpotensi memengaruhi peringkat saham Indonesia. Dengan berbagai sentimen negatif tersebut, rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah, meski diproyeksikan tidak melampaui level Rp17.550 per dolar AS. Dikutip dari Antaranews.com
