Jakarta – Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono, menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, guna membahas peluang ekspor pupuk urea ke Negeri Kanguru tersebut. Langkah ini diambil Australia menyusul gangguan rantai pasok pupuk dunia akibat konflik geopolitik global, termasuk penutupan Selat Hormuz yang menghambat distribusi internasional. Indonesia dinilai memiliki keunggulan strategis karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik secara mandiri, sehingga menjadi incaran banyak negara seperti Australia, India, Filipina, hingga Brasil.
Kapasitas produksi pupuk urea nasional yang dikelola oleh PT Pupuk Indonesia (Persero) saat ini mencapai kisaran 9,36 juta hingga 9,4 juta ton per tahun. Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan produksi urea sebesar 7,8 juta ton, di mana terdapat potensi surplus ekspor sekitar 1,5 juta ton setelah kebutuhan subsidi dalam negeri sebanyak 6,3 juta ton terpenuhi. Meski permintaan global melonjak, Wamentan Sudaryono menegaskan bahwa pemenuhan stok pupuk untuk petani lokal tetap menjadi prioritas utama sebelum dialokasikan ke pasar internasional.
Hubungan dagang antara Indonesia dan Australia ini bersifat resiprokal atau timbal balik, di mana Indonesia mengekspor urea dan sebaliknya mengimpor bahan baku fosfat (DAP) dari Australia. Guna memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci di pasar pupuk internasional, pemerintah berencana melakukan peremajaan pabrik-pabrik pupuk yang sudah tua untuk meningkatkan efisiensi. Upaya ini diharapkan dapat menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus memaksimalkan peluang devisa dari sektor pertanian di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Dikutip dari Antaranews.com
