Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp18.106 per dolar AS, turun 24 poin atau 0,13 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp18.082 per dolar AS. Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen negatif dari dalam negeri maupun global yang menekan pergerakan mata uang Garuda.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu sentimen risk off global, menyusul respons negatif investor terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Meski demikian, pelemahan rupiah diperkirakan dapat terbatas berkat data pertumbuhan ekonomi Indonesia atau Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih kuat dari perkiraan. Investor juga masih menantikan rilis data ketenagakerjaan AS atau Non-Farm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan pada Jumat malam. Lukman memperkirakan pergerakan rupiah berada di kisaran Rp18.050 hingga Rp18.150 per dolar AS.
Pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga berada di bawah tekanan dolar AS. Ringgit Malaysia mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,30 persen, diikuti dolar Taiwan 0,22 persen, yen Jepang 0,20 persen, dolar Singapura 0,14 persen, dan baht Thailand 0,13 persen. Sementara itu, won Korea Selatan dan dolar Hong Kong justru menguat masing-masing 0,15 persen dan 0,04 persen. Indeks dolar AS turut naik ke level 101,65 dari posisi sebelumnya 101,54, mencerminkan penguatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Dikutip dari Suara.com
