JAKARTA — Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 29 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.888 per dolar AS pada perdagangan Rabu sore. Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan pelemahan mata uang Garuda ini tertekan oleh melonjaknya ekspektasi pasar terkait kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) pada 2026. Prospek hawkish Bank Sentral AS tersebut terpicu oleh lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik militer antara AS dan Iran serta ancaman blokade jalur maritim Selat Hormuz oleh kelompok Houthi, yang memicu kekhawatiran inflasi global.
Di tengah tekanan eksternal dan risiko geopolitik di Timur Tengah, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah strategis dengan memperkuat respons kebijakan moneter. Bank sentral memutuskan untuk menahan suku bunga BI-Rate di level 5,75 persen, serta menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility di level 6,50 persen. Keputusan ini diambil guna menjaga stabilitas makroekonomi nasional sekaligus memastikan inflasi tetap terkendali di dalam sasaran target.
Guna menopang pergerakan mata uang domestik, BI juga memperluas pemberian insentif untuk mendorong arus masuk modal asing (capital inflow) ke pasar keuangan Indonesia. Langkah pendalaman pasar uang dan valas ini diharapkan dapat menjaga likuiditas serta memperkuat daya tahan rupiah dari gejolak sentimen global. Sementara itu, berdasarkan data resmi Bank Indonesia, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada penutupan perdagangan hari ini bergerak datar di level Rp17.909 per dolar AS. Dikutip dari Antaranews.com
